Gas elpiji 3 Kg Hijau terindikasi di monopoli di Kota Singkawang ~ Pengalaman Pribadi Pasti ke Singkawang

Translate

Selasa, 23 Oktober 2018

Gas elpiji 3 Kg Hijau terindikasi di monopoli di Kota Singkawang

@ngabarkannye
Gas melon 3 Kg langka di Singkawang, banyak warga mengeluhkan hal ini. Penulis mencoba browsing apakah informasi ini juga terjadi secara nasional yang artinya indikasi masalah berada di Pertamina. Penulis selama ini menggunakan gas 12 Kg dan tidak merasakan ada kelangkaan gas di Kota Singkawang yang dirasakan.

Penulis mencoba searching browsing di google dengan metode tampilan 10 berita halaman utama yang ditampilkan dan berita terbaru di Oktober 2018 prioritas gas subsidi langka, klu kata yang digunakan "gas langka oktober 2018" dan beberapa keyword klu pencarian. Hasilnya negative, hanya di dapati postingan artikel dari Tribun Jogja.com tanggal 24 Oktober 2018 dengan judul "Hindari Kelangkaan Gas Melon, Pangkalan Gas Ini Utamakan Penjualan ke Warga Sekitar". 
Bukan berupa kelangkaan tetapi terlebih bagaimana mengatasi kelangkaan. Isi berita: Deki Bagus (39) pemilik pangkalan Bright Gas mengatakan jika dalam keseharian dirinya lebih mendahulukan pembelian dalam jumlah bijian yang diambil oleh warga sekitar ketimbang dibeli oleh pengecer. Kembali penulis browsing dengan klu "kelangkaan gas di kalbar" 

tidak ada juga berita kelangkaan untuk bulan Oktober 2018. Hanya ada berita yang sangat tidak enak dibaca penulis saat membuka halaman di http://pontianak.tribunnews.com dengan judul "Sidak Rumah Makan, Pertamina dan Pemkot Pontianak Temui Penggunaan Gas 3 Kg" terbit 3 Oktober 2018 yang menjadi top headline utama berita di halaman itu, 

isi berita: Rumah makan yang sudah cukup besar seperti Zam-zam, Annisa, Campago Jalan Tanjungpura, Campago Jalan Adi Sucipto dan Rumah Makan Siang Malam. Hampir semua rumah makan ini menggunakan LPG 3 kg yang diperuntukkan bagi masyarakat miskin. Sales Eksekutif LPG Pertamina Pontianak, Sandy Rahadian menuturkan seharusnya usaha rumah makan, hotel dan restoran tidak seharusnya menggunakan tabung gas 3 kg lantaran itu dikhususkan untuk masyarakat miskin. Para pelaku usaha yang sudah terbilang sangat mapan ini seharusnya menggunakan tabung gas non subsidi. Sementara khusus untuk halaman Singkawang media Tribun Singkawang.com tidak ada mengupas kelangkaan ini sama sekali. Begitu juga pada Pontianakpost.co.id tidak ada berita yang di ulas mengenai kelangkaan gas tabung melon ini. Mencoba mencari berita tambahan lainnya agar tidak ada yang terlewati penulis browsing dengan klu pencarian berita "kelangkaan gas melon di singkawang" hanya di dapati berita kelangkaan gas di tahun 2017, sementara berita dari Kubu Raya dan Kota Pontianak 2 hari lalu hampir merata seluruhnya langka. kutipan isi berita yang berjudul "Selalu Terjadi Kelangkaan Tabung Gas 3 Kg, Dede: Perlu Ada Pengawasan Agar Tepat Sasaran" 21 Oktober 2018, pada Tribun Pontianak
isi berita : Kelangkaan tabung gas elpiji 3 Kg di Kubu Raya terjadi hampir setiap bulan. Untuk saat ini, kesulitan mendapatkan tabung gas melon dirasakan masyarakat hampir merata di Kubu Raya maupun di Kota Pontianak dan sejumlah kabupaten/kota lainnya di Kalbar. Bahkan sudah bukan hal tabu lagi, penjualan tabung gas melon sudah melewati Harga Terginggi Eceran (HET) yang sudah ditentukan pemerintah Rp 16.500. Ketua Lembaga Pemantau Pembangunan Daerah (LPPD) Kubu Raya Dede Junaidi mengatakan kalau pihaknya sudah lama memantau kondisi yang terjadi. "Apa sebenarnya yang jadi penyebab, apakah kelangkaan ini terjadi saat penyaluran dari Pertamina ke agen penyalur, lalu ke konsumen. Dan apakah kebutuhan masyarakat terhadap gas elpiji sgt besar. Pada dasarnya kami heran sekali sebab tabung-tabung elpiji melon ini banyak tersedia di toko-toko pengecer, tapi di agen-agen penyalur kalau ditanya pasti kosong," katanya.

Untuk Singkawang sendiri saat penulis melakukan penggalian informasi, 23 Oktober 2018, kelangkaan gas di seputar Jalan Veteran, Kelurahan Roban, ada seseorang wanita menenteng tabung gas melon 3 Kg berwarna hijau bersama suaminya mengeluh karena sudah keliling ke banyak tempat tidak ada yang menjual gas 3 Kg yang diperlukan. Hal ini juga sama yang dirasakan pedagang gorengan yang berada didepan TPU Jalan Veteran, Kelurahan Roban yang mengatakan kelangkaan gas tabung 3 Kg hijau sulit didapati, padahal harga menurut Ibu tersebut sudah sangat tinggi bila membeli di tingkat pengecer, tetapi masih juga langka, katanya. Dikutip dari berita Antara Kalbar yang terbit pada 4 Mei 2018 dengan judul berita " ASN Singkawang harus tinggalkan LPG 3 kg"
isi berita : seluruh aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kota Singkawang untuk mempelopori serta menyosialisasikan gerakan sadar subsidi penggunaan LPG nonsubsidi bagi masyarakat. "Produk elpiji 5,5 kilogram yang diluncurkan PT Pertamina Marketing Operation Region VI Marketing Branch Kalbarteng kemarin bertujuan agar ASN tidak lagi menggunakan LPG bersubsidi (LPG tabung 3 Kg) tapi segera beralihlah ke tabung 5,5 kilogram," kata Tjhai Chui Mie, di Singkawang, Jumat. Dia mengatakan, sesuai ketentuan yang berlaku usaha mikro yang berhak menggunakan LPG 3 kg adalah usaha yang memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp50 juta atau memiliki hasil penjualan paling banyak Rp300 ribu per tahun. "Pelaku usaha yang sudah mapan dan keluarga dengan kondisi ekonomi menengah keatas sadar untuk tidak lagi menggunakan LPG subsidi 3 kg serta beralih ke bright 5,5 Kg atau 12 kg," katanya. Pemkot Singkawang, sangat mendukung sosialisasi gerakan sadar subsidi di kalangan PNS serta hotel, resto dan kafe (Horeka) Kota Singkawang yang digagas oleh PT Pertamina kemarin. Dia mengatakan, ini merupakan gerakan moralitas yang dimulai dari ASN sebagai abdi negara untuk membantu pemerintah agar subsidi di bidang energi tepat sasaran. "ASN setidaknya menjadi role model bagi masyarakat menengah keatas untuk beralih ke produk bright elpiji gas 5,5 kg," katanya. Dengan sosialisasi itu, ASN diharapkan bisa mendeklarasikan penggunaan LPG nonsubsidi ini atau bisa disebut deklarasi Pink, karena LPG nonsubsidi identik dengan warna Pink. "Mari kita tinggalkan gas melon dan beralih ke gas Pink," katanya. Secara terpisah, Kepala Dinas Perdagangan, Perindustrian, Koperasi, dan Usaha Kecil Menengah Singkawang, Hendryan mengimbau kepada PNS pelan-pelan untuk meninggalkan LPG 3 kg dan beralih yang ke 5 kg. Hal itu diingatkan dia, lantaran LPG 3 kg hanya diperuntukkan kepada masyarakat yang kurang mampu sebagai pengganti minyak tanah dan UKM yang masih mikro kecil atau menengah. "Sedangkan pegawai negeri tidak disarankan untuk menggunakan LPG yang 3 kg," ujarnya. Mengingat sekarang sudah ada tabung gas yang 5 kg, disarankan agar PNS untuk pelan-pelan beralih ke LPG tersebut. "Sekarang pemerintah sudah mengeluarkan produk yang baru yaitu kemasan 5 kg, baik dari segi harga cukup terjangkau bagi masyarakat mampu sehingga tidak ada alasan lagi untuk tidak menggunakannya," katanya. 

Penulis berkesimpulan dari rangkuman informasi yang didapati diatas adalah adanya indikasi: 
1. Kelangkaan terjadi hanya di tingkat lokal daerah tertentu yang sistem distribusinya buruk dan di monopoli pihak tertentu. 
2. Distribusi penggunaan gas bersubsidi 3Kg tidak tepat sasaran, dalam realisasinya banyak digunakan oleh pihak-pihak tidak selayaknya. 
3. Pemerintah daerah dalam hal ini Walikota Singkawang melalui jajarannya wajib bertanggung jawab dengan segera melakukan langkah kongkrit agar keluhan warga segera diatasi...

0 komentar:

Posting Komentar