Profesional Kerja Rumah Sakit Singkawang Diragukan ~ Pengalaman Pribadi Pasti ke Singkawang

Translate

Sabtu, 20 April 2019

Profesional Kerja Rumah Sakit Singkawang Diragukan

pengalamanpribadi- Melanjutkan cerita dari 4 Harapan Warga untuk Rumah Sakit Kota Singkawang, saat kunjungan kedua rawat jalan gigi anak sulung penulis.
Pengaturan waktu antrean pasien sangat mengecewakan
ilustrasi gambar di rumkit 

Saat ini penulis datang setelah ba'da magrib dan tidak lama berselang giliran anak penulis mendapat layanan untuk penanganan dokter gigi.

Hanya perlu waktu sekitar 15 menit layanan kesehatan dokter gigi selesai, kemudian penulis diarahkan dokter tersebut ke counter yang arahnya ia jelaskan letaknya.

Di counter dilakukan penginputan data, dan dengan ramahnya petugas lelaki tersebut setelah lima menit berlangsung mengantarkan berkasnya bersama penulis ke loket kasir.

Saat dikasir, penulis wajib antri menunggu panggilan giliran layanan.

Sekitar 10 menit, nama anak penulis dipanggil dan selembar kertas potongan kecil tertera biaya perawatan yang di klaimkan rumah sakit ke pihak asuransi adalah Rp. 135,000,-.

Dalam kesempatan pertemuan penulis dengan dokter praktek, penulis menyempatkan diri berbincang-bincang  yang pointnya adalah hari selasa dan jum'at disarankannya tidak ke rumah sakit karena dipastikan antrean pasien sangat ramai akibat dari seluruh dokter praktek buka.

Dimungkinkan kurangnya sumber daya manusia (SDM) yang mengakibatkan semua unit layanan digabung menjadi 1 loket antrean.

Sabtu adalah waktu yang ideal untuk berkunjung karena hanya poli gigi yang buka dan dokter tersebut praktek dari pagi sampai dengan jam 13:00 Wib.
Sesuai saran dokter tersebut, sabtu (20/4) penulis berkunjung kerumah sakit untuk pertemuan ke 3 di jam 08 lewat.

Penulis mendapat antrean ke 107.

Suasana kala itu lumayan tidak mengenakan karena Televisi tidak hidup dan yang lebih parahnya kipas angin juga mati.

Hanya 2 buah lampu yang hidup diatas meja layanan pasien.

Penulis mencoba menerka apakah saat itu sedang dalam keadaan mati lampu, tetapi entahlah...

Menunggu sekitar satu setengah jam berlalu, pada antrean 103, isteri saya melihat ada potongan kertas diatas meja berupa pengumuman praktek dokter gigi tersebut penuh.

Syukur kami melihat meja dan tidak hanya mendengar no antrean saja yang dipanggil dari petugas yang saat itu tanpa pengeras suara memanggil no antian pasien.

Maksimal satu hari layanan dokter gigi, jumlah pasien adalah 34 orang.

Saat ditanyakan kepada petugas, bagaimana dengan antrean kita yang sudah menunggu dari tadi.

Dengan nada kurang etis dan tidak ramah, petugas wanita muda mengatakan "mau bagaimana lagi bu".

Akhirnya dengan kecewa, setelah mengantri satu setengah jam, penulis bersama istri dan anak harus kembali pulang dan menjadwalkan ulang kunjungan ke 3 berikutnya.

Penulis dalam keadaan kecewa berfikir, apakah mengenai antrean di rumah sakit ini, tidak bisa diatur seperti layaknya layanan profesional loket di tempat lain.

Bila hanya melayani 34 pasien, no antrean harusnya di sediakan cukup 36 saja, 2 nomor antrean lebih digunakan sebagai pengganti nomor antrean batal untuk menutupi kerugian bisnis rumah sakit.

Bila no antrean telah habis, segera letakan pengumuman bahwa layanan sudah penuh.

Tidak perlu lagi ada antrean, "Ingat", pasien rumah sakit identik adalah orang-orang yang memiliki kebutuhan khusus, jangan ada pemikiran, semakin masyarakat butuh maka semakin pihak layanan seadanya melayani.

Bila ini tidak segera mendapat perbaikan dari pihak Pemerintah Kota Singkawang.

Pasti ke Singkawang, tampaknya masih jauh dari harapan dan hanya berupa slogan kosong pemerintah kota saja saat ini...(*)

Terima kasih telah mampir dan membaca.
Jika ini bermanfaat, silahkan bagikan ke orang terdekatmu dan jangan lupa LIKE fanspage ini untuk mengetahui informasi menarik lainnya di Singkawang Kota Kite.

0 komentar:

Posting Komentar